Pergi Tanpa Guide


DSC00359 - LR

pas masih di Bali dan di lokasi kedua, belum capek πŸ˜€

Ketika pergi-pergi tanpa ikut open trip atau private trip yang ramean, jauh lebih nikmat kalau bisa sewa kendaraan sendiri sehingga bisa menentukan kemana gue akan pergi. Terutama pas kayak bulan madu kemarin, masa jalan-jalannya pakai supir nanti ga bisa ehem-ehem di mobil explore tempat dengan puas. Memang nyupir sendiri jauh lebih capek tapi ada keseruan yang tidak bisa hilang saat berkeliling tanpa orang lain.

Walaupun akhirnya ada sehari yang gue dan April pergi ditemani dengan supir (guide) ketika di Lombok. Orangnya baik tapi tetap saja ada rasa ruginya juga..

1. Harga jadi lebih mahal

Untuk di Lombok kemarin si belum coba untuk ke tempat wisata, tapi saat ke tempat oleh-oleh dan tempat makan. Jadi ceritanya gue dan April diajak ke Sate Rembiga di Lombok yang ternyata bukan lokasi yang sebenarnya (nanti ceritanya di-poin 3), nah disana sempat kaget karena harganya lebih mahal daripada Sate Rembiga yang asli. Saat itu diberikan price list untuk pembeli yang diantar dengan supir, sempet ngobrol dengan salah satu orang disana katanya memang price list warna pink itu khusus pembeli dengan supir.

Bisa dibilang selisihnya lumayan besar dan kalau ditotal mungkin bisa lebih mahal sampai 50 ribu. Walaupun akhirnya setelah komplain, harganya diturunkan jadi harga normal tapi rasanya masih agak gimanaa gitu. Mungkin itu berlaku juga untuk harga tiket masuk suatu tempat wisata, soalnya gue belum coba kalau ke tempat wisata πŸ˜€

2. Dibawa ke tempat yang sama beberapa kali

Ini juga lumayan menyebalkan, awalnya gue dan April cuma mau lihat-lihat toko mutiara karena kebetulan lagi di Lombok. Dibawalah ke tempat mutiara yang mahal dulu, jadi saat itu benar-benar cuma lihat-lihat dan akhirnya mengurungkan niat untuk melihat ke toko mutiara lainnya. Saat kembali ke mobil pun sudah bilang ke supirnya kalau tidak mau ke tempat mutiara lagi, tapi tetaaaap saja dibawa ke toko mutiara lagi dan dia memberi alternatif tempat yang lebih murah. Padahal udah ga mau lihat-lihat apalagi beli mutiara, tapi tetap saja dibawa ke toko mutiara sampai tiga tempat :/

Dan ketika sms dengan supirnya itu, dia sepertinya kekeuh untuk mengajak ke tempat wisata yang tertentu padahal gue sama April udah males jalan ke tempat wisata *gw lupa nama tempatnya*

3. Bukan ke tempat sebenarnya

Ini berhubungan sama cerita Sate Rembiga yang di-poin 1. Jadi dua hari sebelumnya gue dan April sudah ke Sate Rembiga yang asli. Tau dari mana itu yang asli? Cari aja di google, pasti nemunya ke situ juga ko πŸ˜€

Ketika dengan supir ini, dia bilang kalau Sate Rembiga yang di Cakranegara ini adalah cabang dari Sate Rembiga yang asli. Alhasil masih terima aja, tapi ketika sampai di lokasi? Gue dan April yakin sekali kalau ini bukan cabangnya. Kenapa? Karena dari atribut tokonya jauh berbeda, harganya beda jauh, cara penyajiannya pun beda. Apalagi terus sadar dengan kejadian price list pink yang di-poin 1, makin dongkol dah!

DSC00281 - LR

mungkin supirnya perlu diseruduk dulu πŸ˜„

Nah untuk menghindari yang kadang tidak menyenangkan dengan supir (guide) seperti itu, yang perlu disiapkan adalah:

1. Google is on the air

Udah jadi syarat wajib sebelum pergi ke suatu negara, kota, tempat, atau apapun lah itu, cari info sebanyak-banyaknya tentang tempat yang dituju. Apalagi kalau ke kota yang belum pernah gue datengin. Gue biasanya cari lokasi wisata yang mau gue datangi dulu, ga mau kan sudah sampai kota yang dituju terus cuma berdiam diri di hotel tanpa keliling.

Setelah itu perkiraan urutan lokasi wisatanya bagaimana dan aksesnya, karena untuk perkiraan waktu dan yang pasti ga bolak balik ke setiap tempat. Apalagi nyupir sendiri, letih hati kaki aye bang πŸ˜„

2. Cari sewa kendaraan murah

Sebenarnya ga harus murah si, kalau emang punya dana lebih mungkin bisa sampai sewa alphard πŸ˜„

Bisa dibilang ini bagian dari β€œGoogle is on the air” si, karena sebisa mungkin cari informasi sewa kendaraan dari jauh hari biar bisa ada kepastian stock mobil, apalagi kalau libur nasional, banyak yang mobilnya sudah tersewa semua. Dan kelebihannya lagi, bisa bandingin harga sewa jadi siapa tau dapat yang termurah kalau memang mau ngirit macam gue πŸ˜€

3. Kumpulkan informasi lokasi wisata

Bukan tentang sejarah atau cerita dibalik lokasi wisatanya, tapi lebih ke arah jam buka lokasinya dan aksesnya butuh mobil atau motor. Ini pentingnya untuk menentukan itinierary-nya daripada ada lokasi yang ke-skip karena ga terencana. Kalau itinierary sudah jelas, baru lah cari informasi sejarah atau cerita dibalik lokasinya biar makin afdol pas jalan-jalan dan ga terlalu buta. *oke saran ini belum pernah gue lakukan :/

4. Map Offline

Pakai map online lebih enak tapi apakah ada jaminan kalau sinyal akan terus prima, joss, bar sinyal penuh, dan dapat 4G? Pakai operator merah pun sempat kehilangan sinyal. Jadi untuk antisipasi gue sarankan pakai map offline, baik itu fisik atau digital. Karena tanpa supir (guide) yang mengenal daerah, perjalanan tanpa arah itu agak-agak menegangkan. Coba aja nyasar tanpa map, pasti seru πŸ˜„

DSC00802 - LR

ngikut mobil depan biar ga nyasar

Selanjutnya, mari ngelancong tanpa guide lagi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s