Pelajaran dari Toni Blank


Gw melihat acara Bumi dan Manusia di tvOne, Sabtu, 19 Febuari 2011, pukul 21:00. Biasanya gw tidak pernah melihat acara ini tapi secara kebetulan hari ini gw melihat acara ini. Hari ini acara Bumi & Manusia tentang mas Toni Blank. Ya Toni Blank, sebuah film pendek yg beberapa kali gw tonton walaupun tidak semuanya tapi setidaknya bisa menghibur gw sedikit. Awalnya gw pikir acara ini bakalan membuat gw ketawa terus karena membahas tentang Toni Blank tapi TERNYATA TIDAK!

Diawal acara memang sedikit menampilkan cuplikan dari film pendek Toni Blank dan masih bisa membuat gw tertawa. Gw masih suka melihat omongan Toni Blank yg mungkin “sok” berbobot tapi asal banget itu. Tapi semakin mendekati akhir acara, gw baru sadar kalau acara ini tidak membahas tentang behind the scene dari film pendek Toni Blank atau kumpulan cuplikan film pendek Toni Blank. Ternyata ini jauh diluar ekspetasi gw dan ini lebih membuat gw merasa bersyukur dengan keadaan gw sekarang.

Gw masih ingat sekali apa yg temen gw bilang waktu nonton Toni Blank rame-rame di lab. Dia bilang kalau Toni Blank itu (sory) orang gila. Dan saat itu gw masih mengiyakan saja karena memang dari yg ditayangkan di film pendeknya jelas sekali kalau omongannya itu asal banget. Gw tidak pernah terpikir bahasa yg lebih halus dari kata “gila”, karena pendapat gw saat itu memang dia itu orang yg seperti itu.

Walaupun kadang gw sempet berpikir kalau omongannya dia itu kadang ada benernya. Ya hanya “kadang” karena sebagian besar lainnya itu kacau sekali dan gw masih belum bisa melepas pikiran gw dari pernyataan kalau Toni Blank itu gila.

Tapi setelah gw melihat acara Bumi & Manusia, gw seperti melihat seorang Toni Blank dari sisi yg lain, perspektif yg berbeda. Dimana gw tidak bisa langsung menghakimi seseorang hanya berdasarkan dari pendapat subjektif saja. Manusia tidak se-simple itu. Manusia jauh lebih kompleks dari apa yg ada dipikiran setiap manusia lainnya.

Mungkin hanya 3 hal yg benar-benar gw sadari untuk menjadi pelajaran. Untuk kebaikan gw, orang yg mungkin membaca tulisan ini, dan untuk semua orang di dunia. Hmm, baik tidaknya itu hampir ga bisa gw tentukan dari awal karena ya pendapat setiap orang itu jelas berbeda terhadap suatu hal. Berikut adalah 3 hal yg gw maksud:

Hal pertama yg gw suka dari acara ini, gw melihat sang sutradara film pendek  itu (gw tidak ingat siapa namanya) tidak pernah menyebut kalau mas Toni itu gila. Entah karena berada di depan kamera atau gimana, yg jelas itu membuat gw untuk tidak menghakimi seseorang. Dia menyebut kalau mas Toni itu orang yg tinggal di panti sosial.

Hal yg gw pelajari adalah untuk tidak menghakimi atau melabeli seseorang secara langsung. Memang kadang dibutuhkan cepat untuk mengetahui bagaimana sifat seseorang, tapi menurut gw lebih baik apa yg sudah disimpulkan secara sepihak itu jangan lah digunakan langsung untuk melabeli seseorang. Alangkah lebih baiknya, kumpulkan dulu apa pendapat subjektif setiap orang terhadap suatu hal, lalu baru bisa dibuat kesimpulan menjadi sebuah pendapat objektif. Tapi ini pun masih kurang untuk membuat suatu pendapat menjadi objektif, misal hal yg dimaksud adalah orang, mungkin kita harus bisa mengenal bagaimana sosok orang tersebut dengan benar dulu.

Hal kedua yg gw suka, gw tidak begitu ingat tentang apa yg dibilang. Tapi kalau tidak salah itu tentang kenapa dia mempertanyakan kenapa negara tidak menjamin kehidupan rakyatnya. Tapi seperti hanya menghilangkan rakyatnya dan tidak menganggapnya ada. Ah gw tidak ingat dan apa yg gw tulis untuk bagian ini belum tentu benar. Seandainya ada rekamannya yg bisa didownload, mungkin akan gw tonton lagi.

Dan saat bagian ini, digambarkan kalau mas Toni senang membuat sesuatu yg menurut imajinasinya adalah hal yg hebat. Menurut gw, itu mainan dari barang bekas. Tapi ya setidaknya apa yg dibuat itu ada hasilnya walaupun hanya dari pendapat dia saja. Dan kata-kata Toni Blank yg gw suka adalah:

Selama nyawa belum dihilangkan, kita masih bisa terus berkarya.

Jujur gw sangat kaget saat dengar bagian ini. Memang tidak sama 100% dengan apa yg disebut dengan di tv tapi kalau tidak salah maksudnya seperti itu. Hal yg mengagetkan gw yaitu, orang yg mendapat label “gila” bisa berbicara seperti ini.

Hal yg gw pelajari adalah orang yg mendapat label “gila” saja bisa berbicara seperti itu dan membuat suatu karya dalam definisi dia sendiri. Barang-barang buatannya memang sebuah karya tapi untuk fungsi, itu tergantung dari setiap orang menggambarkannya seperti apa. Terserah itu karya apa, selama menurut pembuatnya itu adalah karya, ya hargailah layaknya sebuah karya lainnya.

Contohnya, ketika digambarkan mas Toni menunjukkan hasil buatannya dan dia bilang itu adalah mesin dari pesawat luar angkasa. Tapi menurut gw, itu hanya lah botol-botol plastik dan berbagai macam benda bekas lainnya yg dia satukan dan menghasilkan sebuah mesin pesawat luar angkasa, menurut dia.

Setidaknya, berbuat lah sesuatu. Melakukan hal yg berguna dan produktif.

Hal ketiga yg gw suka, ketika dibagian akhir, saat si sutradara film pendek bertanya ke mas Toni, bagaimana kalau dia sudah pindah ke Jakarta dan tidak tinggal bersama mas Toni lagi. Kalau disuruh untuk menuliskan apa yg mas Toni bilang, gw tidak bisa karena gw tidak ingat dengan kata-katanya. Yg gw ingat hanya raut mukanya, seperti kebingungan dan tanda penolakan. Terlihat sekali kalau mas Toni tidak mau berpisah dengan si sutradara.

Hal yg gw pelajari? Tidak bisa dibilang dengan “hal yg gw pelajari” karena apa yg terbayang sama gw saat melihat adegan ini benar-benar berbeda dengan apa yg tampil di tv. Gw malah membayangkan tentang orang tua gw. Walaupun lebih banyak terbayang itu tentang ibu gw tapi gw lebih senang menggeneralisasikan dengan orang tua karena bapak dan ibu gw itu sangat penting bagi gw.

Gw teringat dengan sebuah cerita teman gw saat di lab dan juga menjadi teringat dengan omongan dosen gw tentang orang tua juga. Mungkin bisa dikatakan, tentang seorang anak yg menyia-nyiakan orang tuanya. Orang tua yg sangat berjasa tapi malah mendapat perlakuan yg tidak adil dari anaknya sendiri, padahal sudah berjuang untuk kehidupan yg lebih baik untuk anaknya.

Gw membayangkan bagaimana jika gw harus berpisah dengan orang tua gw. Berpisah yg gw maksud bukan lah seperti yg ditayangkan di tv, ketika si sutradara harus ke Jakarta dan meninggalkan mas Toni. Tapi berpisahnya itu, mungkin gw bilang ini perpisahan yg sebenarnya, meninggal. Gw tidak tau apa yg akan terjadi dengan gw. Gw belum berbuat banyak, bukan, gw belum berbuat apa-apa. Gw masih hanya meminta, menuntut, menghabiskan uang, dll.

Semua yg gw tulis mungkin hanya seperti bualan besar dari seorang Antares Bugi. Belum ada yg terbukti. Gw sadar ketika gw menulis ini, suatu pertanyaan besar akan muncul, Antares Bugi berani menulis seperti ini semua tapi apakah sudah melakukannya? Gw akui ini memang susah untuk dibuktikan tapi selama ada kemauan pasti akan bisa terbukti juga.

Seperti pepatah kuno: if there is a will, there is a way.

Advertisements

5 thoughts on “Pelajaran dari Toni Blank

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s